Adajuga yang menuangkan minyak wangi, kado, ucapan selamat jalan dan ada yang berdoa di dekat pohon palem tersebut. ==============. Jika di bandingkan dengan tradisi Jahiliyah, maka benar-benar ada kesamaannya: 1. Pohon Uzza. Uzza adalah pohon yang dikeramatkan orang-orang musyrikin Arab Jahiliyah. Bentuk mengeramatkannya adalah dengan membuat BeliPada Zaman Dahulu Kala Online terdekat di Jakarta Barat berkualitas dengan harga murah terbaru 2021 di Tokopedia! Pembayaran mudah, pengiriman cepat & bisa cicil 0%. Download Tokopedia App. Tentang Tokopedia Mitra Tokopedia Mulai Berjualan Promo Menurut'Aisyah ada empat model pekawinan atau berhubungan badan pada masa jahiliyah. Pertama. Kawin yang kita kenal pada hari ini (setelah Islam datang). Seorang laki-laki meminang wanita atau anak perempuan kepada walinya, lalu membayar mahar, kemudian menikahinya. Kedua. Disebut dengan istibdha'. Sumberilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona. Sebelum kedatangan Islam oleh Nabi Muhammad SAW dikenal dengan zaman jahiliyah. Dalam Islam, periode jahiliyah dianggap sebagai suatu kemunduran dalam kehidupan beragama. Pada saat itu masarakat Arab jahiliyah mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk seperti meminum minuman keras, berjudi, dan menyembah Sejak zaman dahulu kala semua bangsa melebur satu di Makkah. Di sana tidak ada lagi Arab, Persia, Turki, Melayu, Jawa, Negro, Kurdi, Berber, Mongol, Cina, India, dan lain sebagainya. Syiah, Suni, NU, Muhamadiyah atau SI. Semua tidak lagi jadi perhitungan. Yang penting kalau berhaji di Makkah mereka mabrur,''ujarnya lagi. . Ciri umum yang selalu disebut-sebut pada masyarakat Arab, suku Quraisy, ketika Nabi Muhammad mulai diutus memperkenalkan ajaran Islam adalah jahiliyah. Kata jahiliyah artinya adalah bodoh. Nabi Muhammad diutus di tengah masyarakat itu oleh karena kebodohannya. Bukan disebut nakal, tetapi adalah bodoh. Bodoh lawan katanya adalah pintar, cerdik, atau cerdas. Disebut bodoh oleh karena tidak mampu mengunakan akal atau pikirannya. Diajari tidak nyambung, diberi sesuatu menolak, diberi nasehat tidak mau mendengarkan, Sesuatu yang penting diangap tidak ada gunanya, dan sebaliknya, sesuatu yang tidak ada gunanya dianggap penting. Oleh karena kebodohannya itu, patung buatannya sendiri dianggap tuhannya. Anak perempuan sebagai penerus keturunannya dianggap rendah, tidak ada gunanya, dan bahkan mendatangkan rasa malu. Wanita termasuk ibunya sendiri dianggap sekedar sebagai harta dan boleh diwaris. Maka, harkat dan martabat manusia tidak dihargai. Selain itu, oleh karena kebodohannya itu pula, manusia dirampas kehormatannya, dijadikan budak, dan diperdagangkan. Seseorang tatkala dijadikan budak, maka diperlakukan apapun sesuai dengan kemauan pemiliknya. Ketika itu ada jual beli manusia atau budak, bahkan di juga terdapat pasar manusia. Antar kabilah atau suku saling bersaing, perang, dan juga beradu kekuatan. Siapa yang kuat, merekalah pemenangnya. Kehidupan manusia, pada zaman jahiliyah tidak ubahnya kehidupan binatang. Beradu kekuatan dianggap hal biasa. Itulah sebabnya masyarakat Arab, suku Quraisy, ketika itu disebuit sebagai masyarakat bodoh atau jahiliyah. Berbeda dengan zaman jahiliyah, masyarakat sekarang ini menamakan dirinya modern, beradab, menghargai harkat dan martabat manusia. Kebodohan dianggap sudah hilang, atau masa lalu. Antar manusia sudah saling memahami, menghormati, menjalin kasih sayang, dan bertolong menolong. Siapa saja yang menggangu kehormatan seseorang, maka diadi atas dasar hukum yang berlaku. Namun pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya pada masyarakat modern, ciri kebodohan atau jahiliyah sebagaimana dikemukakan itu sudah berhasil dihilangkan. Mari kita lihat melalui gambaran singkat berikut. Pada masyarakat modern setelah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka antar negara juga ternyata saling berlomba kekuatan, baik lewat ekonomi, politik, dan bahkan juga persenjataan. Alat-alat modern yang berfungsi untuk menghancurkan kekuatan musuh, ternyata semakin dahsyat. Jika peperangan pada zaman jahiliyah Arab dahulu hanya menggunakan panah, tombak, dan pedang, maka sekarang ini negara-negara maju menggunakan peralatan yang amat canggih, berupa bom atau nuklir yang memiliki daya pemusnah yang amat dahsyat. Hanya dalam hitungan detik, sebuah kota besar bisa dibikin hancur tidak tersisa. Jika pada masa jahiliyah manusia diperdagangkan, harkat dan martabat wanita tidak dihargai, maka pada zaman modern sekarang ini, masing-masing kita bisa melihat sendiri. Perempuan dijual belikan, bagaikan barang atau bahkan binatang, untuk memuaskan nafsu yang tidak terkendali. Jual beli perempuan, juga diiklankan bagaikan memasarkan barang dagangan lainnya. Lebih dahsyat lagi, binatang tatkala mengembangkan keturunannya tidak melakukan kesalahan. Binatang berjenis kelamin jantan melakukan seks dengan betina. Seks di kalangan binatang tidak ada yang antar sejenis, tetapi justru manusia ada yang melakukan hal itu. Homoseks dijadikan perbincangan untuk dilegalkan. Demikian pula, obat-obatan terlarang, diperjual belikan. Belum lagi kejahatan itu berupa korupsi, manipulasi, kong kalikong, bahkan juga pembunuhan dilakukan untuk mendapatkan keuntungan atau keselamatan dirinya. Merenungkan gambaran tersebut, maka di zaman modern seperti sekarang pun, ciri-ciri jahiliyah ternyata justru lebih tampak, dan bahkan kekuatan perusaknya jauh lebih dahsyat. Mungkin jika dibandingkan, keadaan di zaman modern ini akan lebih jahiliyah dibanding masyarakat jahiliyah suku Quraisy zaman dahulu. Akhirnya, memperhatikan hal itu, sementara orang bertanya, bagaimana mengatasi jahiliyah modern itu. Jawaban itu kiranya sederhana saja, yaitu perbaikilah akhlaknya. Jalan selainnya, tidak mungkin. Wallahu a'lam Jahiliyah Modern?Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'alaihi wasallam-, keluarga dan para bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'duPengertian Arab dan siapa yang dimaksud dengan merekaBerkata Ibnu Mandhur, "al-Urub dan al-Arab, adalah sebuah generasi dari manusia yang lebih dikenal dengan lawan al-A'jam non Arab, dan kata Arab menunjukan bentuk tunggal".[1] Dan al-'Arab secara bahasa bermakna sahara atau gurun padang pasir. Tanah tandus yang tidak berair tidak pula ada tanamannya. Dan kata ini sering diartikan secara bebas dari zaman dulu pada dua hal1. Jazirah Kaum yang tinggal dipadang pasir dan menjadikan sebagai tempat menetapnya.[2]Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Nama Arab pada asalnya nama bagi suatu kaum yang terkumpul tiga sifat padanya, yaitu1. Lisan mereka berbahasa Mereka adalah anak keturunan orang Tempat tinggal mereka berada ditanah Arab, yaitu Jarirah Arab".[3]Adapun yang dimaksud dengan Jarizah Arab, secara geografis letaknya berada, dari arah barat mulai dari laut merah dan jazirah Sinai, dari arah timur mulai dari teluk arab dan sebagian besar negeri Irak bagian selatan, dan dari arah selatan mulai dari laut Arab yang memanjang hingga laut India, dan dari arah utara mulai dari negeri Syam dan sebagian negeri Irak, dengan adanya perbedaan perbatasan pada sebagian distrik [4], hingga semenanjung laut Arab dan sungai euphrat, dan tidak dijumpai dari sisi sebelah utara yang membatasi dengan ahli geografi menamakan Arab dengan orang yang pertama kali tinggal di Jazirah Arab, walaupun air tidak dijumpai dari berbagai arah.[5]Begitu pula nama ini sering dipakai untuk menjelaskan sebuah pemukiman, mengacu pada ucapannya sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, seperti dinukil oleh Yaqut al-Hamawi[6] didalam kitabnya Mu'jamul Buldan menukil dari Hisyam bin Muhammad bin as-Saib al-Kalbi.[7]Adapula ulama yang menyebut negeri Arab dengan sebuah Jazirah yang dikelilingi oleh sungai dan lautan dari segala sisi dan penjurunya [8], mereka menggambarkan seperti negeri ditengah lautan. Dan diperkirakan luasnya antara satu juta mil hingga satu juta tiga ratus ribu mil.[9]Kenapa dinamakan ArabPara ulama berselisih menjadi beberapa pendapat, diantaranya Seperti yang dikatakan oleh al-Alusi [10], beliau menuturkan, "Sesungguhnya Arab, mereka adalah kaum yang telah dikenal oleh umat-umat yang lain, dengan sifat-sifatnya, seperti jelas ketika berbicara, mempunyai kata-kata yang fasih, oleh karena itu mereka dinamakan dengan nama ini, terambil dari kefasihan. Diambil dari ucapan mereka, 'Keterangan seseorang manakala mengemukakan apa yang ada dalam hatinya'. Maksud jika dirinya menerangkan secara jelas dan gamblang".[11] Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Mandhur, beliau menjelaskan, "Sesungguhnya orang pertama yang Allah Shubhanhu wa ta’alla mudahkan lisannya untuk mengucapkan bahasa Arab adalah Ya'rub bin Qahthan. Dia merupakan nenek moyang seluruh penduduk negeri Yaman, mereka adalah Arab asli. Dan ketika nabi Isma'il 'alihi sallam tumbuh dewasa bersama mereka, berbicara dengan menggunakan bahasa mereka, maka beliau dan anak keturunannya dinamakan dengan Arab keturunan".[12] Sesungguhnya anak keturunan nabi Isma'il 'alaihi sallam berkembang di Arabah yaitu daerah yang masuk dalam wilayah Tuhamah, lalu mereka menisbatkan diri kepada negerinya tersebut, dan bagi tiap orang yang tinggal di negeri Arab dan sekitarnya, serta berbahasa Arab, baik yang berasal dari Yaman ataupun Ma'ad. Al-Azhari menuturkan, "Pendapat yang kuat menurutku, mereka menamakan diri dengan orang Arab dikarenakan menisbatkan kepada negerinya, yaitu al-Arabaat".[13]Adapun yang dimaksud dengan Arab, asalnya ada nama bagi suatu komunitas, mereka merupakan cabang pokok dari anak keturunana Samiyin, yakni kaum yang menisbatkan diri kepada Sam bin Nuh 'alaihi sallam.[14] Dan para ahli sejarah membagi orang Arab terbagi menjadi dua kelompok, pertama yang telah musnah, kedua yang masih tetap kekal, sedangkan komunitas yang masih ada terbagi menjadi Arab asli, dan yang kedua Arab keturunan [15]. Atau seperti yang dikatakan oleh sebagian ahli sejarah, ada Arab bagian selatan dan Arab bagian utara.[16] Sedangkan asal keturunan Arab, maka para ulama nasab sepakat jika orang Arab semuanya adalah anak keturunan nabi Isma'il dan Qahthan.[17]Dan yang kita maksud dalam pembahasan ini ialah orang arab dari dua keturunan tadi yaitu anak keturunan nabi Isma'il yang dikenal dengan Adnaniyuun dan anak keturunan Qahthan yang lebih dikenal dengan Kedua Pengertian Jahiliyah dan Siapa Yang Dimaksud Dengan secara terminologi masdar shina'i dari isim fa'il 'Jahil' dengan cara ditambahkan padanya huruf 'Ya' yang menunjuk pada penisbatan lalu ditambah lagi dengan huruf 'Ta Ta'nits', Ta' yang menunjukan perempuan. Sehingga kesimpulannya bisa diketahui bahwa asal kata Jahiliyah berasal dari kata Jahil yang merupakan isim fa'il, pecahaan dari kata kata al-Jahl mempunyai beberapa makna, seperti dikatakan oleh ahli bahasa, diantaranyaPakar bahasa yang bernama Ibnu Mandhur menjelaskan, "al-Jahl artinya tidak memiliki ilmu, seperti dikatakan si fulan bodoh ketika Jahlan tidak paham, Jahalatan tatkala bodoh tentangnya, dan Tajahala ketika menampakan kebodohannya. Dan Juhalah yang bermakna melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu".[18]Al-Alusi menuturkan, "al-Jahl juga mempunyai arti orang yang tidak mau mengikuti ilmu, sehingga orang yang berbicara menyelisihi kebenaran, baik dirinya paham tentang kebenaran tersebut ataupun tidak maka dinamakan dia orang yang Jahil bodoh".[19]Begitu pula orang yang mengamalkan lawan dari kebenaran maka dia dinamakan bodoh walaupun dirinya paham jika dirinya sedangkan mengamalkan amalan yang menyelisihi kebenaran.[20]Dari sini kita mendapati kekeliruan sebagian orang, sebagaimana dijumpai dalam beberapa kamus, yang mengatakan, kalau jahiliyah menunjukan tentang zaman yang penuh dengan kebodohan yang tidak mempunyai ilmu sama sekali serta tidak bisa baca tulis, maka ucapan ini kurang tepat, sebab, orang Arab sebagaimana yang kita ketahui mereka mempunyai ilmu dan bukti yang menunjukan akan tersebut ialah bahasa dan kefasihan mereka serta kekuatan lisan yang mereka miliki. Ditambah syair-syair mereka serta tulisan-tulisannya ketika berpidato. Demikian pula sejarah memberikan pencerahan pada kita jika mereka mempunyai ilmu pengetahuan tentang perbintangan, ilmu falak, paham kapan bintang itu tenggelam dan kapan terbitnya, mengetahui prakiraan cuaca, kapan akan turun hujan, angin dan juga mereka mengetahui hal tersebut melalui uji coba yang sering dilakukan dan juga penelitian dan memperhatikan secara seksama, tentunya, mereka pelajari semua itu tidak melalui ilmu filsafat, tidak pula belajar kepada orang lain.[21]Sedangkan Jahiliyah secara etiomologiJahiliyah sering diartikan dengan suatu zaman yang ada sebelum kedatangan agama Islam, inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Khalawih [22], "Sesungguhnya penamaan ini perkara baru dalam agama Islam, dan sering diartikan dengan zaman sebelum diutusnya nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam".[23] Dan para pakar sejarah, dan peneliti sepakat dengan pendapat diatas. Seperti dikatakan oleh Ibnu Hajar, "Inilah yang sering diartikan, diantara nash yang mendukung ialah firman Allah azza wa jalla﴿ يَظُنُّونَ بِٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ ظَنَّ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِۖ ١٥٤﴾ [ آل عمران 154 ]"Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah". QS al-Imran 154.Beliau melanjutkan, "Adapun pernyataan Imam Nawawi dalam berbagai kesempatan dalam bukunya Syarh Muslim, bahwa inilah yang dimaksud sesuai dengan apa adanya. Maka ucapan beliau perlu dikritisi, sebab kata ini yakni Jahiliyah sering diartikan dengan makna sesuatu yang telah lewat, yang dimaksud masa sebelum datangnya agama Islam, dan dijelaskan batas terakhirnya ialah pasca penaklukan kota Makah".[24]Pembagian Jahiliyah dan macamnyaJahiliyah terbagi menjadi dua macam Jahiliyah secara umum, ialah Jahiliyah sebelum diutusnya nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi sallam, dan jahiliyah pada zaman tersebut itulah yang disematkan kebodohan kepada para penghuni. Sebab ucapan dan perbuatan mereka hanyalah diada-adakan oleh para juhal, karena hanya dilakukan oleh orang yang bodoh, begitu pula setiap perkara yang menyelisihi apa yang dibawa oleh para rasul yang dikerjakan oleh orang Yahudi dan Nashrani, maka zaman tersebut dinamakan Jahiliyah secara kedua Jahiliyah secara khusus, ialah kebodohan setelah diutusnya nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi sallam, seperti yang dikatakan oleh nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi sallam dalam sabdanyaقال رسول الله صلى الله عليه وسلم مبتغ في الإسلام سنة الجاهلية » [أخرجه البخاري]"Orang yang durhaka dalam Islam mengikuti metodenya Jahiliyah".[25]Yang dimaksud dalam lafad hadits diatas ialah Jahiliyah dalam konteks yang umum, sama saja apakah dari kalangan Yahudi atau Nashrani, Majusi maupun Shobi'ah, paganisme ataupun monotisme, maka orang yang durhaka secara keseluruhan ataupun sebagiannya saja dinamakan Jahiliyah. Atau orang yang menyematkan sebagian ritual dari ajaran-ajaran Jahiliyah ini, maka semuanya, baik yang baru saja dilakukan ataupun yang telah lama dipraktekan dinamakan dengan Jahiliyah setelah diutusnya nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi secara sekilas lafad Jahiliyah tidak disematkan melainkan kepada orang Arab yang hidup sebelum datangnya cahaya Islam. Dan kedua makna diatas tidak saling kontradiksi karena memiliki kesamaan makna. Namun, Jahiliyah yang khusus ini masih terbagi lagi menjadi duaJahiliyah secara bebas yaitu Jahiliyah yang berada disuatu negeri namun tidak ada pada negeri yang lain, sebagaimana Jahiliyah yang ada dinegeri kafir. Bisa pula jahiliyah yang ada pada seseorang tapi tidak pada orang lain, seperti non muslim sebelum masuk islam. Maka orang-orang tersebut dikatakan Jahiliyah walaupun tinggalnya dinegeri makna Jahiliyah secara bebas bila ditarik kezaman maka sudah dihapus dengan datangnya agama Islam, sehingga tidak ada istilah zaman Jahilyah lagi setelah diutusnya nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi sallam. Sebab akan senantiasa ada dikalangan umat ini, kelompok yang selalu berada diatas kebenaran hingga datangnya hari kedua Jahiliyah dengan arti yang lebih sempit, yaitu jahiliyah yang mencokol pada sebagian negeri-negeri kaum muslimin, dan pada kebanyakan pribadi muslim, inilah yang dimaksud dalam sabda nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi sallamقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ.. » [أخرجه مسلم]"Ada empat perkara dikalangan umatku yang termasuk perkara Jahiliyah yang mereka tidak akan meninggalkanya..".[26]Juga yang disinggung dalam sabda beliauقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ » [أخرجه البخاري ومسلم]"Sesungguhnya pada dirimu masih ada watak jahiliyah yang mencokol".[27]Dan juga hadits-hadits yang senada dengan ini. dan barangkali jahiliyah pada abad kedua puluh ini -seperti yang didengungkan oleh sebagian orang- dari sisi ini, tentunya dengan makna yang lebih luas, dan jauh masuk kedalam lubuk umat ini. wallahu a' zamaniyah Jahiliyah dan Yang Dimaksud DenganyaMasa yang dilalui oleh kaum jahiliyah tidak bisa diprediksi secara pasti berapa lamanya, demikian pula tidak bisa dibatasi secara rinci dari satu keadaan sampai pada keadaan tertentu, oleh sebab itu, masalah ini adalah masalah yang terjadi tarik ulur pendapat dikalangan ulama, sehingga ada pendapat dan juga sanggahannya, apalagi dengan zaman yang disebutkan oleh al-Qur'an tentang Jahiliyah yang pertama. Dimana para pakar berselisih pendapat dengan pendapat yang sangat demikian perkaranya, diantara perkara yang tidak diragukan lagi, bahkan bisa dikatakan sebagai kesepatakan bersama bahwa salah satu tanda yang paling menonjol dari dua kurun Jahiliyah yang pertama dan kedua, yang datang sebelum diutusnya Rasulallah Shalallahu 'alaihi sallam, ialah1. Jahiliyah pertama. Mereka ialah kaum Jahiliyah kuno yang sejarahnya telah ditelan zaman, karena lamanya. Yang hanya bisa dikenali para pelakunya, semisal, Arab asli, atau Arab yang dibinasakan, dari kaum Aad dan Tsamud, Thasam dan Jadis, Mamalik dan Madyan, Aim dan Hadra Maut serta Jurhum generasi Jahiliyah yang dekat dengan zaman munculnya Islam, atau yang turut langsung menyaksikan kemunculannya, yang kurang lebih antara empat ataupun lima masa. Dimana orang-orangnya menisbatkan pada Arab atau kepada generasi sebelumnya yaitu sebagai keturuan Arab asli dan Arab keturunan, sama saja apakah mereka anak keturunan dari Qahthan yang ketika itu tinggal di Yaman dan disebelah selatan jazirah Arab, atau Arab dari anak keturunannya nabi Isma'il yang dikenal dengan Adnaniyun yang tinggal di Tuhamah, Hijaz dan Nejed, dan yang berada didataran tinggi negeri Persia, Irak dan Syam. Merekalah orang-orang Arab pertama yang kita mengambil bahasa Arabnya, baik bait syair maupun dialeknya. Dengan bahasa merekalah al-Qur'an diturunkan, serta dari kalangan mereka keluar seorang rasul dari keturunan Arab yang jujur lagi amanah. Mereka itulah yang kami maksud dalam pembahasan kita kali ini.[28][1] . Lisanul Arab 9/113.[2] . Lihat penjelasannya dalam kitab Rahiqum Makhtum hal 19 oleh Syaikh Mubarakfuri. Dan kitab Tarikh Jaziratil Arab hal 16 oleh D. Abdullah bin Sholeh al-Utsaimin.[3] . Iqtidho Shirathol Mustaqim hal 166. Ibnu Taimiyah.[4] . Lihat Rahiqum Makhtum hal 19 oleh Syaikh Mubarakfuri.[5] . Tarikh Jaziratil Arab hal 16 oleh D. Abdullah bin Sholeh al-Utsaimin.[6] . Beliau adalah Yaqut bin Abdillah ar-Rumi, al-Hamawi, Abu Abdillah, sejarahwan, sastrawan, penyair, ahli bahasa, ahli nahwu, diantara karya tulisnya ialah Mu'jamul Buldan, Akhbar al-Mutanabi, lahir dinegeri Romawi tahun 574 H. meninggal pada tahun 626 H. lihat biografinya dalam kitab Mu'jam Mu'alifin 13/178-179.[7] . Mu'jam Buldan 2/137.[8] . Lihat penjelasannya dalam Tarikh Madzaahib Islam hal 4-5 oleh Khadari Baek.[9] . Rahiqum Makhtum hal 19 Syaikh Mubarakfuri.[10]. Beliau adalah Abul Ma'ali Mahmud Syukri bin Abdillah bin Mahmud bin Abdullah bin Mahmud al-Husaini, al-Alusi, al-Baghdadi. Sejarahwan, sastrawan, ahli bahasa, termasuk ulama Islam. Lahir pada 19 Ramadhan tahun 1273 H, mempunyai kajian dirumahnya dan beberapa masjid, beliau memiliki kisah dan sikap terpuji bersama penguasa Alu Utsman. Meninggal di Baghdad tahun 1342 H. beliau banyak meninggalkan karya tulis diantaranya, Bulughul Arib fii Ahwalil Arab, Ghayatul Amani 'ala Nabahani, Fathul Manan. Lihat biografinya secara lengkap dalam Mu'jamul Mu'alifin 12/169.[11] . Bulughul Arib fii Ahwalil Arab 1/8.[12] . Lisanul Arab 9/114.[13] . Ibid.[14] . Lihat keterangannya dalam Tarikh Ibnu Khaldun 2/8, 46-47.[15] . Tarikh Ibnu Khaldun 2/18. Raudhatu Unuf 1/19-31 oleh as-Suhaili.[16] . Tarikh Jaziratil Arab hal 20 oleh D. Abdullah bin Sholeh al-Utsaimin.[17] . Sirah Nabawiyah 1/17 Ibnu Hisyam. Jaziratil Arab Mashir Ardhi wa Umaah hal 54 oleh Muhammad Walad Daduh.[18] . Lisanul Arab 2/402.[19] . Bulughul Arib fii Ahwalil Arab 1/16. lihat pula keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha Shiratol Mustaqim hal 77.[20] . Ibid.[21] . Tarikh Mukhtashar Duwal hal 94 oleh Ibnul Shabri.[22] . Beliau adalah al-Husain bin Ahmad bin Khalawaih bin Hamdan bin al-Hamdzani. Abu Abdullah. Ahli Nahwu, ahli bahasa, berasal dari Hamdzani, kemudian pindah ke Baghdad. Beliau sempat berjumpa dengan ulama besar di Baghdad dan menimba ilmu dari Abu Bakar al-Anbari, Ibnu Darid, Abu Umar az-Zahid serta yang lainnya. Beliau meninggal di kota Halab pada tahun 370 H. lihat biografinya dalam Mu'jam Mu'alifin 3/310-311.[23] . Bulughul Arib fii Ahwalil Arab 1/15 oleh al-Alusi.[24] . Fathul Bari 7/149.[25] . HR Bukhari no 6882.[26] . HR Muslim no 934.[27] . HR Bukhari no 6050. Muslim no 1661.[28] . Lihat keterangannya dalam buku Syirku Jahili, wa Alihatal Arab al-Ma'budah qobla Islam hal 13-14 oleh D. Yahya bin Ahmad Syami. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Manusia adalah makhluk yang kompleks. Watak, kepribadian, pola hidup semuanya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kadang mereka tak pernah menyadari dengan segala perbuatan yang dilakukannya, hingga akhirnya membuahkan aib dan merusak citra dirinya. Berikut saya akan membahas mengenai kehidupan jahiliyah di masa dahulu hingga yang terjadi hari Siapa yang tidak tahu dengan ini, Pengertian Jahiliyah dalam hal ini bermakna tidak menggunakan “hati” dan atau “pikiran” mereka. Masih ingat salah satu bait lagu Bimbo yang sangat populer “bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar”. Seperti itulah gambaran Jahiliyah, mereka tahu bahwa yang mereka lakukan itu “salah” tetapi tetap pada kesombongan, keangkuhan, kekerasan, prestise, jabatan, dan tujuan yang akan mengalahkan segalanya. Sebagai contoh kejadian-kejadian pada zaman Nabi Ibrahim, ajaran Nabi Ibrahim kepada kaumnya, termasuk ayah kandungnya sendiri tidak diindahkan sama sekali, agar tidak menyembah dan mempertuhankan berhala-berhala. Perempuan hanya dijadikan budak pemuas nafsunya, anak-anak ditelantarkan. Yang ada pada zaman itu hanya peperangan-peperangan antar suku untuk mencapai boleh jadi Jahiliyah pada zaman Arab sebelum Nabi Muhammad diutus Islam datang akan dan bahkan terjadi pada zaman modern ini. Kita banyak menyaksikan bagaimana orang-orang yang terkenal dengan kecerdasan, keintelektualan mereka, tapi dengan semena-mena berbuat seenaknya saja demi mencapai suatu tujuan. Mereka bukan bodoh, tetapi membodohi diri sendiri. Mereka bukan tidak tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Dengan kecerdasannya mereka membodohi masyarakat, terutama masyarakat bawah, dengan kekuasaanya mereka memperbudak rakyat. Itulah gambaran singkat perilaku jahiliyah di zaman modern ini. Semoga kita termasuk orang yang selalu diberi cahaya dan petunjuk yang lurus ihdzinash-shirathal mustaqim, sehingga kita tidak termasuk manusia-manusia dengan sebutan Jahiliyah Modern. Beberapa contoh kekejaman jahiliyah kunoüBetapa di jaman dulu orang mendengar bengisnya bangsa Arab pada saat itu, karena merasa setiap kelahiran seorang anak perempuan menjadikan aib buat keluarga mereka, sehingga sebuah tindakan yang di jaman itu yang sudah dianggap biasa tanpa merasa berdosa hanya karena malu mempunyai anak perempuan dengan membunuhnya atau mengubur sang bayi dalam keadaan kalau ditilik dengan jaman yang serba modern dan penuh dengan perjuangan tentang Hak Asasi Manusia HAM, sepertinya saat ini jahiliyah merupakan cerita kuno, sebagai isapan jempol, kita semua tidak merasa bahwa saat ini kita sedang berada di zaman Jahiliyah Modern, mengalami saat yang serupa dengan kehidupan jahiliyah dizaman sebelum Rasulullah Muhammad saw. Betapa tidak? Coba saja dengar, lihat dan baca di media masa mengenai banyaknya kasus pembunuhan, tidak hanya terhadap kaum wanita, tapi sekarang terhadap semua manusia wanita hanya menjadi simbol “kelemahan” semata. Kelemahan terhadap kekuasaan, kekuatan, kesempatan, kemiskinan, ketersudutan kepentingan, pengangguran, krisis mental, dll…semua ini adalah metamorfosa / pengulangan dari jaman jahiliyah kuno yang dimunculkan di jaman modern hanya bayi perempuan saja yang dibunuh, bahkan ayah kandungnya sendiri, ibu kandungnya sendiri, keluarganya sendiri, kalau nafsu syaithan sudah memuncak, tidak ada yang bisa menghalangi si “jahil” dari perbuatan “membunuhnya”. Berita orang-orang terkenal yang dengan terus terang tanpa beban membeberkan aibnya dengan cara aborsi demi sebuah alasan mempertahankan kehormatannya mana mungkin menjadi terhormat dengan cara melakukan aborsi?, bahkan dengan tidak malu-malu dan tidak merasa bersalah menceritakannya kepada media massa dengan bangganya. Naudzubillah. Coba bandingkan pembunuhan bayi-bayi yang tidak berdosa di zaman dulu dengan zaman sekarang. Di zaman sekarang pun marak terjadi kasus pembuangan bayi, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Tidakkah perbuatan ini sama kejamnya dengan apa yang dilakukan di zaman jahiliyah dulu?. Kasus demikian biasanya di jumpai karena masalah ekonomi atau karena bayi tersebut hasil dari hubungan gelap. Miris sekali!! Lihat Pendidikan Selengkapnya Jakarta - Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad oleh Moenawar Khalil, istilah jahiliyah menurut kamus bahasa Arab adalah 'kebodohan'. Mereka yang dimaksud dengan bangsa jahiliyah adalah golongan penyembah patung atau berhala di wilayah Arab, sebelum Islam datang kepada juga dalam buku tersebut, berdasarkan ensiklopedia bahasa Arab, maksud dari jahiliyah adalah keadaan manusia sebelum dibangkitkannya Nabi Muhammad SAW, atau golongan manusia yang hidup sebelum Nabi Muhammad datang. Mereka juga sudah tidak mengikuti pimpinan Nabi Allah yang pernah datang kepada mengutip referensi yang sama, jahiliyah juga adalah bangsa yang berada dalam kebodohan, namun yang dimaksud oleh Islam bukanlah sebuah kebodohan dalam arti "tidak mempunyai pengetahuan, kepandaian, kecerdasan berpikir, atau kecakapan kerja". Maksudnya adalah kebodohan yang kaitannya dengan keimanan terhadap Allah, juga kebodohan dan sifat dungu atas peraturan Allah dan hukum-Nya di alam semesta ini. Istilah jahiliyah juga disebutkan dalam Al-Quran salah satunya dalam Al Ahzab ayat 33وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًاArtinya "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."Mengutip referensi lain dari buku Jahiliyah Jilid II oleh Muhammad Hendra, sebelum datangnya Nabi Muhammad, bangsa Arab sudah membangun sistem politik, pengetahuan, pemerintahan, dan kebudayaan yang baik. Adapun istilah bangsa jahiliyah sebelum datangnya Nabi, disebutkan identik dengan sifat manusianya yang tidak manusiawi. Karena pada zaman jahiliyah, terkenal dengan kekejaman, peperangan, minum-minuman, foya-foya, dan juga merendahkan derajat seorang sahabat nabi bernama Hudzaifah pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, kita pernah merasakan hidup di zaman jahiliyah yang penuh keburukan, kemudian Allah mengganti masa ini dengan kebaikan datangnya Islam, apakah setelah ini akan datang kembali keburukan-keburukan itu perilaku jahiliyah?" Rasulullah menjawab "Ya, masa itu akan datang kembali lagi."Sehingga secara sosiologis, menurut Prof. Suyuthi Pulungan dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, masyarakat Arab jahiliyah bisa juga diartikan sebagai masyarakat yang tidak harmonis. Ketidakharmonisan itu berdampak luas pada perbuatan negatif yang muncul dan membuat mereka hidup dalam kesesatan dan kezaliman. Kezaliman mereka juga disebabkan oleh rasa ketidak tertarikannya pada agama yang diajarkan oleh Nabi dan Rasul penjelasan mengenai sebab bangsa Arab sebelum mengenal Islam disebut dengan bangsa jahiliyah. Bangsa Arab sebelum Islam datang disebut dengan Arab Jahiliyah. Ilustrasi bangsa Arab pra Isla. JAKARTA – Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab kerap menampakkan budaya-budaya tidak baik dan dikenal dengan sebutan jahiliyah. Pertumbuhan kejahilan ini tidak diisi dengan keterisian akhlak. Dalam buku Akhlak Tasawuf karya Abuddin Nata dijelaskan, bangsa Arab di zaman jahiliyah tidak memiliki ahli filsafat yang mengajak pada aliran paham tertentu. Hal itu sebagaimana berbeda yang dijumpai pada bangsa Yunani dan Romawi. Tidak adanya ahli filsafat pada masa itu disebabkan tidak berkembangnya kegiatan ilmiah di kalangan masyarakat Arab. Pada masa itu, bangsa Arab hanya mempunyai ahli hikmah dan ahli syair. Di dalam kata-kata hikmah dan syair tersebut, dapat dijumpai ajaran yang memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi keburukan. Mendorong pada perbuatan yang utama dan menjauhi dari perbuatan yang tercela dan hina. Hal yang dikemukakan misalnya terlihat pada kata-kata hikmah yang dikemukakan Luqmanul Hakim, Aktsam bin Shaifi, dan pada syair yang dikarang oleh Zuhair bin Abi Sulma, hingga Hakim Al-Thai. Masa jahiliyah bangsa Arab tentunya berbeda setelah Islam menyapa. Ajaran akhlak pada masa Islam menemukan bentuknya yang sempurna. Dengan titik pangkalnya kepada Allah dan akal manusia. Agama Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Allah SWT dan mengakui bahwa Dia-lah Pencipta, Pemilik, Pemelihara, Pelindung, Pemberi Rahmat, Pengasih, dan Penyayang terhadap segala makhluk-Nya. Pentingnya Mengenal Tradisi Masa JahiliyahApa itu Jahiliyah?Jenis-jenis JahiliyahApa Hukum Meniru Perangai Jahiliyah?Bersemangat Mempelajari Agama Mengetahui tradisi di masa Jahiliyah adalah hal yang penting. Sebab tradisi Jahiliyah bertolak belakang dengan Islam. Bahkan tujuan diutusnya Rasul membawa Islam adalah untuk menyelisihi adat Jahiliyah yang buruk itu. Setidaknya ada dua poin yang bisa kita petik dari mengenal masa Jahiliya Dengan mengenal Jahiliyah kita akan mengetahui hakikat Islam. Karena suatu perkara bisa dikenali dengan mengetahui lawannya. Sebagaimana pepatah arab mengatakan, “Sesuatu akan nampak indah dengan melihat kebalikannya.”1 Lainnya mengatakan, “dengan adanya kontradiksi maka akan tersingkap hakikat perkara-perkara2 Jika kita ingin mengetahui indahnya Islam, maka kita perlu mengerti kelamnya masa Jahiliyah sebelum Islam. Menjaga diri agar tidak terjerumus padanya. Seorang yang tidak tahu-menahu tentang tradisi Jahiliyah tentu akan mudah terjatuh padanya. Dinukilkan dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu anhu beliau mengatakan, إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَا يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ “Sungguh tali Islam akan terurai seutas demi seutas, jika ada di dalam Islam orang-orang yang tidak mengerti masa Jahiliyah.” Dinukil oleh Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah al Harrani di dalam Majmu’ Fatawa [jilid 10, hlm 301] dan Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i al-Dimashqi di dalam kitab Madarij as-Salikin [jilid 1, hlm 351] rahimahumallahu Pepatah arab juga mengatakan, عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ * لَكِنْ لِتَوَقِيهِ وَمَنْ لاَ يَعْرِفُ الخَيْرَ * مِنْ الشَّرِّ يَقَعُ فِيهِ Aku mengetahui keburukan bukan untuk dilakukan tetapi untuk menghindarinya. Barangsiapa tidak mengetahui keburukan, ia akan terjatuh padanya. Jika Islam adalah kebaikan terbesar yang Allah karuniakan, berarti Jahiliyah adalah keburukan terbesar. Dengan mengenali masa Jahiliyah kita bisa terhindar dari keburukan yang terbesar. Walhamdulillah. Apa itu Jahiliyah? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI kata Jahiliyah artinya kebodohan. Seorang yang jahil adalah orang yang tidak mengerti tentang agama3. Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud dengan masa Jahiliyah adalah masa sebelum datangnya Islam4. Dalilnya adalah perkataan shahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang artinya, “dahulu di masa Jahiliyah aku mendengar ayahku berkata, tuangkanlah khamer satu gelas penuh untuk kami!” HR. Bukhari5. Jenis-jenis Jahiliyah Para ulama membagi Jahiliyah menjadi dua jenis, Jahiliyah mutlak atau umum. Jahiliyah mutlak atau umum. yaitu masa sebelum diutusnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, {وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى} “Jangan kalian kaum wanita bersolek sebagaimana pada masa Jahiliyah yang pertama.” al-Ahzab 33 Qatadah rahimahullah menerangkan, “hal itu terjadi sebelum datangnya Islam.”6 Jahiliyah muqayyad atau akhir. Jahiliyah muqayyad atau akhir yaitu Jahiliyah yang terjadi setelah diutusnya Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Maksudnya adalah perilaku di masa Jahiliyah yang menjadi tradisi pada suatu daerah atau perseorangan setelah diutusnya Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan, yang dimaksud dengan Jahiliyah akhir adalah perkataan dan perbuatan di masa Islam yang serupa dengan perilaku orang-orang di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada salah seorang shahabat, “إنك امرؤ فيك جاهلية“ “Pada dirimu ada sifat Jahiliyah.” HR. Bukhari di dalam shahihnya no. 1282 Apa Hukum Meniru Perangai Jahiliyah? Setiap perkara yang disifati dengan Jahiliyah adalah tercela. Di dalam Al Quran kata Jahiliyah banyak disebutkan dalam konteks celaan. Diantaranya firman Allah Azza wa Jalla, أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ “Apakah hukum Jahiliyah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya dibandingkan Allah bagi orang-orang yang yakin?” al-Maidah 50 Juga firman-Nya Ta’ala, يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ “Mereka berprasangka terhadap Allah dengan persangkaan Jahiliyah.” Ali Imran 154 Dengan meniru perangai Jahiliyah berarti telah meniru perangai yang dicela Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lebih dari itu, seorang yang meniru perangai Jahiliyah bisa digolongkan sebagai kaum Jahiliyah pula. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» “Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongannya.” HR. Abu Dawud no. 4031 dan Ahmad no. 5114 Bersemangat Mempelajari Agama Sebagai seorang muslim yang ingin menjaga keutuhan iman tentu khawatir terjatuh pada perkara Jahiliyah. Diantara sebab yang paling kuat untuk terhindar darinya adalah banyak mendalami ilmu agama. Semakin kuat ilmu agama maka akan semakin mudah menghindari kebiasaan Jahiliyah. Oleh karenanya seorang yang hendak diberi kebaikan oleh Allah maka akan dipahamkan tentang urusan agamanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِي الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya maka akan dipahamkan tentang agama.” HR. Tirmidzi no. 2645, ad-Darimi no. 231 dan Ahmad no. 2790, shahih Demikian sekelumit tentang Jahiliyah, selanjutnya akan dipaparkan aneka ragam tradisi di masa Jahiliyah pada bagian berikutnya -InsyaAllah-. FAI. footnote 1 Disebutkan oleh al-Munjabi. 2 Disebutkan oleh Abu Thayib al-Mutanabbi di dalam kasidah yang memuji Harun bin Abdul Aziz. 3 KBBI, Tim Pustaka Gama, hlm 354.

pada zaman dahulu kala pada zaman jahiliyah